Selain mengasah keahlian dan keterampilan generasi muda untuk menjadi tenaga siap kerja, kewirausahaan juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan dalam pendidikan vokasi.Model pembelajaran pendidikan vokasi masa depan adalah model pembelajaran berbasis hasil penelitian tentang mata pelajaran di SMK berbasis dunia usaha/industri. Pendidikan vokasi di Indonesia juga masih perlu diperkuat untuk relevansi kompetensi yang dihasilkan dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Untuk itu, penguatan pendidikan vokasi harus menjadi fokus dan perhatian semua pihak. demikian, kompetensi lulusan yang dihasilkan SMK sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha/industri.
Tantangan pendidikan vokasi di masa depan antara lain:
pemahaman istilah vokasi/keterampilan itu sendiri yang masih belum dipahami oleh warga sekolah, sehingga ini menjadikan ekosistem pendidikan vokasi di sekolah tersebut tersendat.
level kemampuan siswa yang berbeda-beda sehingga membuat kemampuan mencerna materi juga berbeda-beda.
rasio lowongan kerja industri dan jumlah lulusan SMK yang tidak sebanding, sehingga perlu adanya pembelajaran vokasi tambahan untuk mendukungnya.
era sociaty 5.0 yang membuat warga SMK harus segera beradaptasi dengan cepat.
Selain itu upaya-upaya lain yang bisa kita lakukan adalah membangun ekosistem sekolahsupaya dapat menjalankan pendidikan bermutu, yakni mengembangkan potensi anak didik (bakat, minat, karakter, moral, dan wawasan) serta keterampilan hidup mandiri dan bekerja,menciptakan unit produksi dan bisnis center di sekolah karena banyak potensi kewirausahaan yang belum tergali baik di sektor barang maupun jasa
Selama ini kurikulum, proses ajar, praktik kerja industri (prakerin), hingga penilaian masih berpusat pada satuan pendidikan vokasi. Industri masih belum dilibatkan secara optimal, yang seakan pendidikan vokasi dan industri berdiri secara sendiri-sendiri. link and match antara satuan pendidikan vokasi dan industri harus di libatkan sejak awal dari penyusunan kurikulum bersama, ahli dari industri terjun mengajar, sertifikasi kompetensi berbasis industri, kolaborasi riset, mengadakan program pelatihan keterampilan ulang (upskiling), dan peningkatan keterampilan (reskilling) agar menjadi adaptif, penyesuaian alat laboratorium, project based learning sesuai kebutuhan industri, hingga komitmen bersama dalam menyerap lulusan pendidikan vokasi.
Model-model yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan sebagai berikut.
Model pendidikan di dunia kerja (companymodel) adalah pendidikan tenaga kerja yang dilakukan secara penuh di perusahaan atau biasa disebut magang;
Model pendidikan di sekolah (schoolbased) adalah pendidikan kejuruan yang dilakukan di sekolah. Seluruh sistem pelaksanaan, fasilitas, anggaran, dan pengelolaan merupakan tanggung jawab sekolah khususnya pemerintah. Model ini menempatkan industri hanya sebagai model saja;
Cooperatif model atau pendidikan sistem ganda (PSG). Model pendidikan ini dilakukan secara bersama-sama antara sekolah dan dunia kerja. model ini merupakan kombinasi dari schoolbased dan company model yang dipercaya dapat mengatasi kelemahan dari masing-masing model tersebut;
Model schoolbasedenterprise atau dikenal dengan Unit Produksi (UP). Model ini pada dasarnya adalah mengembangkan dunia usaha di lingkungan sekolah dengan maksud memberikan pengalaman kerja nyata di sekolah sekaligus menambah penghasilan sekolah.
Pendidikan vokasional merupakan penggabungan teori dan praktik secara seimbang dengan orientasi pada kesiapan kerja lulusannya. Kurikulum dalam pendidikan vokasional terkonsentrasikan pada sistem pembelajaran keahlian pada kejuruan- kejuruan khusus. pendidikan vokasi diarahkan untuk dapat menghasilkan lulusan yang terampil, kompeten, berdaya saing, dan berkarakter sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Karena vokasi punya tujuan mempersiapkan lulusan yang bisa menerapkan keahlian dan keterampilan di bidangnya, makanya sistem pendidikannya lebih memberatkan praktikum.
Pembelajaran Berbasis Interaksi Sosial
Pembelajaran yang menekankan pada hubungan personal dan sosial kemasyarakatan diantara peserta didik. Karena pada dasarnya pendidikan adalah untuk mempersiapkan warga negara yang akan mengembangkan tingkah laku demokratis yang terpadu, baik dalam tataran pribadi maupun sosial serta meningkatkan taraf kehidupan yang berbasis demokrasi sosial yang produktif.
psikomotorik adalah perkembangan kepribadian manusia yang berhubungan dengan gerakan jasmaniah dan fungsi otot akibat adanya dorongan dari pemikiran, perasaan dan kemauan dari dalam diri seseorang.
Pembelajaran interaksi sosial adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada terbentuknya hubungan antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya.
sekolah kejuruan dapat menerapkan model pembelajaran proses informasi juga kedalam pembelajaran psikomotorik peserta didik, keduanya harus dipadu padankan.
Pembelajaran Berbasis Pemrosesan Informasi
Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang meniti beratkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran.
Pembelajaran Berbasis Aktivitas Personal
Pembelajaran otentik menekankan pada aktivitas belajar yang berbasis dunia nyata, contohnya menerapkan ilmu yang diperoleh harus disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran otentik perlu ditekankan dunia nyata yang seperti apa yang akan dijadikan pembelajaran. guru harus bisa mengindentifikasi permasalahan yang ada di dunia nyata yang bisa dijadikan pembelajaran. kemudian menyusun sintaks (langkah) pembelajarannya. dan diakhir kegiatan jangan lupa merefleksi agar bisa dijadian acuan dalam pembelajaran selanjutnya
Pembelajaran Berbasis Sistem Perilaku
Macam-Macam Model Pembelajaran yang Perlu Diketahui
Model Pembelajaran Langsung
Model Pembelaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
Model Pembelajaran Index Card Match (Mencari Pasangan)
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan , pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.Penilaian adalah proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka atau deskripsi verbal), analisis, dan interpretasi untuk mengambil keputusan. Sedangkan penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian dilaksanakan melalui berbagai bentuk antara lain: penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.
Untuk memperoleh pemahaman yang sama dalam pelaksanaan penilaian hasil belajar oleh pendidik perlu dijelaskan pengertian yang terkait dengan penilaian di SMK dapat disimak di: Panduan Penilaian SMK
Mengacu pada Lampiran permendikbud
81A Tahun 2013, strategi penilaian hasil belajar dapat dilakukan dengan metode
dan teknik penilaian
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat saat ini telah mempengaruhi secara nyata perkembangan cara-cara yang digunakan dalam proses pendidikan. Produk-produk hasil perkembangan teknologi informasi (TI) telah menginvasi secara langsung di hampir seluruh aspek pendidikan, dan memunculkan pergeseran paradigma dalam penyelenggaraan proses belajar dan mengajar (Lustigova & Lustig, 2009). Sekurangkurangnya terdapat 4 pergeseran paradigma pembelajaran saat ini, yakni (1) dari terpusat pada guru menuju terpusat pada siswa, (2) dari sekedar penyampaian pengetahuan menuju pengembangan kecerdasan multi konteks, (3) dari pengajaran berbasis tempat terbatas menuju belajar berwawasan global, lokal dan individual, dan (4) dari buku teks yang terbatas menuju sumber-sumber belajar yang sangat beragam
Pergeseran paradigma pendidikan tersebut dipengaruhi oleh perkembangan TI yang sekurang-kurangnya ditunjukkan dalam situasai-situasi seperti berikut ini:
1. Konten Multimedia 2. Kemudahan Akses ke Konten Berkualitas
3. Pembelajaran Fleksibel (Mobile Learning)
4. Teknik Evaluasi Diri
5. Fokus pada Pelatihan Keterampilan Praktis
6. Pendidikan Untuk Siswa Cacat
7. Pendidikan dengan Biaya Terjangkau
Pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran pada umumnya diimplementasikan ke dalam dua jenis program aplikasi yakni aplikasi desktop dan aplikasi berbasis web. Aplikasi desktop diartikan sebagai program aplikasi komputer yang dapat berjalan secara offline (komputer tidak terhubung ke jaringan internet). aplikasi berbasis web merupakan program komputer yang berjalan secara online, sehingga memerlukan koneksi internet yang memadahi agar program dapat running well. Jika koneksi internet yang tersedia tidak memadai, maka program aplikasi berbasis web ini akan berjalan sangat lambat dan bahkan akan mengalami situasi hang-up, di mana program berhenti sama sekali.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat, dewasa ini telah dikembangkan teknologi internet dengan berbagai aplikasinya. Penggunaan teknologi ini telah merambah ke hampir seluruh sektor kehidupan manusia seperti bidang perbankan, perhotelan, pelayanan travel, hiburan, berita dan berbagai aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, serta telah memberikan pengaruhnya yang besar pada dunia pendidikan (Bates & Poole, 2003). Internet didefinisikan sebagai jaringan global yang menghubungkan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia dengan menggunakan prosedur tertentu. Aplikasi internet dalam mendukung bidang pembelajaran dapat dipandang sebagai media, jaringan atau tools.
Pembelajaran blended merupakan kombinasi antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran dimediasi komputer termasuk di dalamnya pembelajaran jarak jauh dan E-Learning.
Melalui pembelajaran blended juga dapat ditingkatkan aksesibilitas siswa terhadap proses pembelajaran. Penyediaan akses yang luas bagi siswa terhadap proses pembelajaran merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam penyelenggaraan pembelajaran online. Pembelajaran blended menjadikan siswa dapat memperoleh situasi-situasi yang beragam di luar kondisi lingkungan onlineyang dapat memberi peluang untuk berinteraksi secara sosial dengan guru maupun sesama siswa. Selain itu, melalui pembelajaran blended juga dapat diperoleh fleksibilitas yang tinggi terutama dari sisi waktu pembelajaran yang digunakan. Kegiatan tatap muka yang terus menerus menyebabkan penggunaan waktu kurang fleksibel.
Dalam penerapannya, metode blended learning ini menggabungkan beberapa elemen seperti metode tatap muka (sinkronus), pembelajaran mandiri, kolaborasi antara guru dan siswa, asesmen yang dilakukan secara terpadu, dan akses mudah pada materi-materi pelajaran.
Seperti yang disampaikan oleh Founder dan Chief Education Officer Zenius, Sabda PS, penerapan blended learning memiliki beberapa keunggulan, seperti memberikan pilihan kepada siswa untuk dapat mengatur jadwal belajar sendiri sesuai kemampuannya dan membebaskan sumber pelajaran untuk diambil dari mana saja.
"Kedua keunggulan ini dapat dimanfaatkan agar menjadikan kegiatan belajar tetap terasa interaktif dan memancing keinginan belajar para siswa," papar Sabda
Belajar adalah
perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai
hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat
adanya interaksi antara stimulus dan respons.
Kemampuan guru dalam menjaga, mengarahkan dan
membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan
bakatnya.Gurusebagai motivator,
proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa memiliki motivasi dalam
belajar.
Pembelajaran kompetensimenunjukan pada usaha siswa mempelajari bahan
pelajaran sebagai akibat perlakuan guru dalam mengelolapembelajaranyang menekankan pada
kemampuan dasar yang dilakukan siswa pada tahap pengetahuan, keterampilan, dan
sikap.
Multimedia adalah gabungan dari berbagai media untuk menyampaikan informasi. Contoh media penyampai informasi yang dimaksud adalah teks, gambar, foto, video, musik, bahkan animasi. Siaran televisi misalnya, merupakan contoh multimedia. multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai sistem komunikasi interaktif berbasis komputer dalam suatu penyajian secara terintegrasi. Istilah berbasis komputer berarti bahwa program multimedia menggunakan komputer dalam menyajikan pembelajaran.
Secara umum manfaat yang dapat diperoleh multimedia pembelajaran adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurang, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Multimedia interaktif merupakan bentuk media yang menggabungkan banyak unsur dilengkapi dengan alat pengontrol. Dengan demikian, pengguna dapat memilih proses selanjunya secara aktif. Adapun unsur yang digabungkan dalam multimedia interaktif antara lain, teks, grafik (imag), audio, dan interaktivitas.
Pengembangan bahan ajar dapat dilihat sebagai salah satu langkah dalam pengembangan desain pembelajaran. Dalam model rancangan sistem pembelajaran Dick dan Carey meletakkan kegiatan pengembangan dan seleksi bahan (materi) pembelajaran, sebelum merancang kegiatan evaluasi formatif. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar merupakan puncak kegiatan rancangan sistem pembelajaran, yang terkait dengan penyiapan bahan sebagai wahana interaksi peserta didik dengan sumber belajar.
Mendasarkan pada model rancangan sistem pembelajaran Dick dan Carey, apabila diterapkan dalam kurikulum berbasis kompetensi thun 2004 kegiatan pengembangan bahan ajar harus diawali dengan kegiatan permulaan yang terdiri atas (1) identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar, (2) analisis pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar, (3) merumuskan hasil belajar, dan (4) pengembangan strategi pembelajaran (pengalaman belajar). Berdasarkan hasil perumusan tujuan dan pengembangan strategi pembelajaran, maka disusunlah rancangan pengembangan bahan pembelajaran atau bahan ajar. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar adalah proses penyiapan bahan pembelajaran yang terdiri atas penataan pesan, dalam sumber belajar atau media pembelajaran. Sebagai perwujudannya dapat dalam bentuk paket belajar, buku Asmaul Husna, buku teks, dan lain-lain.
Ditinjau dari peran guru dalam mengembangkan bahan ajar dan strategi penyampaian pada tiap-tiap kegiatan pembelajaran dapat dibedakan atas tiga peran guru dalam merancang bahan, yaitu: (1) guru sebagai perancang pembelajaran individual, (2) guru menyeleksi dan mengadaptasi bahan ajar agar sesuai dengan siasat pembelajaran, dan (3) guru tidak memakai bahan tetapi menyampaikan pengajaran sesaui dengan strategi pembelajaran.
Bahan ajar adalah bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran (Pannen, 1995). Bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi atau subkompetensi dengan segala kompleksitasnya (Widodo dan Jasmadi dalam Lestari, 2013:1). Pengertian ini menjelaskan bahwa suatu bahan ajar haruslah dirancang dan ditulis dengan kaidah intruksional karena akan digunakan oleh guru untuk membantu dan menunjang proses pembelajaran. Bahan atau materi pembelajaran pada dasarnya adalah “isi” dari kurikulum, yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topik/subtopik dan rinciannya (Ruhimat, 2011:152).
Karakteristik Bahan Ajar
Sesuai dengan penulisan modul yang dikeluarkan oleh Direktorat Guruan Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2003, bahan ajar memiliki beberapa karakteristik, yaitu self instructional, self contained, stand alone, adaptive, dan user friendly (Widodo dan Jasmadi dalam Lestari, 2013 : 2). Baca juga di: Karakteristik ideal bahan ajar
Bahan ajar disusun dengan tujuan:
Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan
tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan
kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang
sesuai dengan karakteristik dan setting atau
lingkungan sosial peserta didik.
Membantu peserta didik dalam memperoleh
alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks
yang terkadang sulit diperoleh.
Memudahkan guru dalam melaksanakan
pembelajaran.
Bentuk bahan ajar
Bahan cetak seperti: hand out, buku, modul,
lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart,
Audio Visual seperti: video/film,VCD
Audio seperti: radio, kaset, CD audio, PH
Visual: foto, gambar, model/maket.
Multi Media: CD interaktif, computer Based,
Internet
Bahan ajar disusun dengan tujuan:
Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik;
Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh;
Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Manfaat bagi guru
Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik;
Tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit diperoleh;
Memperkaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi;
Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar;
Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan peserta didik karena peserta didik akan merasa lebih percaya kepada gurunya;
Menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.
Manfaat bagi Peserta Didik
Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik;
Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru;
Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya.