Jumat, 20 Mei 2022

Strategi Pembelajaran PTK

 

A. Pembelajaran Berbasis Kompetensi

Leighbody mengungkapkan bahwa telling is not teaching, listening is not learning, and watching is not learning, but all three may need to be used to assist learning (Leighbody, 1968:3).Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa mengajar bukan hanya sekedar bercerita dan belajar tidak hanya sekedar mendengarkan dan melihat apa yang disampaikan oleh guru, namun ketiganya diperlukan dalam belajar. Implikasi dari apa yang disampaikan olehLeighbody tersebut adalah bahwa mengajar memerlukan suatu strategi agar interaksi antara guru dengan peserta didiknya terjadi secara optimal. Strategi secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan (Abin Syamsudin, 1998: 220).

Wina Sanjaya (2007:131) menyampaikan bahwa dalam menggunakan strategi pembelajaran harus memperhatikan prinsip: a. Berorientasi pada tujuan b. Aktivitas         c. Individualitas  d. Integritas

Pembelajaran pada hakikatnya adalah pembentukan lingkungan agar peserta didik dapat belajar berinteraksi dengan lingkungan dimana mereka belajar. Dengan demikian, pada peristiwa pembelajaran peserta didik sebagai pelaku pembelajaran harus aktif, tidak hanya sebagai penerima ilmu dari guru tetapi harus berperan sebagai pencari ilmu. Oleh karena itu, pembelajaran harus terjadi perubahan pola pikir dari guru sebagai pusat pembelajaran (teacher centered) menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centered learning).

 Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian kompetensi. Proses pembelajaran berbasis kompetensi menggunakan asumsi bahwa peserta didik yang akan belajar telah memiliki kompetensi awal yang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi tertentu. pembelajaran berbasis kompetensi harus terus menerus dikembangkan, agar pembelajaran menjadi menarik dan tidak membosankan. Norton (1987) menggambarkan lima elemen esensial dari pembelajaran berbasis kompetensi yaitu (1) kompetensi yang akan dicapai harus dirumuskan dengan cermat tentang jenis dan jenjang kompetensi dan verifikasi kompetensi sesuai kebutuhan di tempat kerja, (2) kriteria yang akan dipakai untuk mengukur dan kondisi pengukurannya harus dinyatakan secara eksplisit dan dibuat secara terbuka/transparan, (3) program pembelajaran dirancang sedemikian rupa dan mampu mengembangkan individu dan evaluasi untuk masing-masing kompetensi, (4) aktivitas penilaian kompetensi harus mampu mengukur pengetahuan, sikap, dan kinerja aktual (actual performans), dan (5) (pembelajaran hendaknya mampu mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan yang terukur.

B. Pembelajaran Saintifik


        Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang untuk mengkondisikan agar peserta didik secara aktif mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan mengamati (untuk mengedintifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan.

    Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Bantuan guru diperlukan dalam melaksanakan proses tersebut. Akan tetapi, bantuan guru tersebut hendaknya semakin berkurang seiring dengan semakin dewasanya dan tingginya jenjang kelas peserta didik. Mengacu pada Permendikbud Nomor 81ATahun 2013, proses pembelajaran untuk semua jenjang termasuk sekolah menengah kejuruan dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik).

Langkah-langkah pendekatan saintifik

C. Pembelajaran Berbasis Proyek


            Pembelajaran berbasis proyek merupakan pembelajaran yang didasarkan pada penyelesaian proyek bagi peserta didik. Pembelajaran berbasis proyek merupakan kategori strategi pembelajaran tidak langsung (indirect instruction). Pembelajaran berbasis proyek memberikan tugas yang berasal dari masalah. Peserta didik dituntut melakukan pemecahan masalah secara mandiri dengan permasalahan yang autentik sehingga memungkinkan pengembangan keterampilan dan pengetahuan peserta didik.

Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek

·         Penentuan proyek

·         Perancangan langkah-langkah penyelesaian proyek

·         Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek

·         Penyelesaian proyek dengan fasilitas dan monitoring guru.

·         Penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil proyek

 

D. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBL)


Pembelajaran berbasis masalah adalah strategi pembelajaran yang menggerakkan peserta didik belajar secara aktif memecahkan masalah yang kompleks dalam situasi realistik.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah:

·         Aktivitas didasarkan pada pertanyaan umum

·         Belajar berpusat pada peserta didik, Guru sebagai fasilitator

·         Peserta didik bekerja kolaboratif

·         Belajar digerakkan oleh konteks masalah

·         Belajar interdisipliner

Tahap-tahap Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)

Tahap-1 Orientasi peserta didik kepada masalah

Tahap-2 Mengorganisasi peserta didik untuk belajar

Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

 

E. Pembelajaran Berbasis Kerja (Work Based Learning)


Beberapa definisi menjelaskan bahwa workbased learning sebagai semua bentuk pembelajaran melalui tempat kerja, apakah berwujud pengalaman kerja (work experience) atau kerja dalam bimbingan (work shadowing) dalam waktu tertentu.

Manfaat Pembelajaran Berbasis Kerja (WorkBased Learning)

1.      Bagi Peserta didik

2.      Bagi dunia Industri

3.      Bagi Sekolah

4.      Bagi Komunitas

     Pelaksanaan pembelajaran berbasis kerja (workbased learning) dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai model sebagai berikut:

1.      Apprenticesship,

2.      Internship,

3.      School Based Enterprise,

4.      Co-operatif Education,

5.      Job Shadowing

F. Pembelajaran Praktik Bengkel

Pembelajaran praktik dirancang dengan pembelajaran berbasis kompetensi (competence based learning). Pembelajaran competence based learning adalah suatu pendekatan pelatihan dan assessment yang diarahkan pada outcomes yang spesifik. Pendekatan ini membantu individu untuk menguasai keterampilan, pengetahuan dan sikap sehingga mereka mampu menunjukkan hasil kerjanya pada standar di tempat kerja dan kondisi tertentu. Kompetensi terdiri dari spesifikasi pengetahuan, ketrampilan dan sikap serta penerapannya dalam tingkat pekerjaan industri pada standar unjuk kerja yang dibutuhkan dalam pekerjaan

Pelatihan Berbasis Kompetensi (CBT) Lebih Mengedepankan:

1.      Peserta pelatihan harus sangat aktif berlatih dan mencari bahan ajar

2.      Instruktur lebih kepada memfasilitasi

3.      Pelatihan berdasarkan standar

4.      Penilaian hanya mengumpulkan bukti bahwa hasil pelatihan sesuai dengan kriteria standar

 

G. Pembelajaran Praktik Laboratorium

Pembelajaran praktik laboratorium adalah sebuah pembelajaran yang berfungsi meningkatkan pemahaman tentang suatu teori, konsep dengan melakukan percobaan (eksperimen) di laboratorium.  Dari pengertian tersebut bisa kita simpulkan bahwa pembelajaran model ini menekankan pada praktik laboratorium untuk eksperimen guna menyelesaikan suatu masalah.

Skenario Pembelajaran Praktikum Laboratorium


G. Pembelajaran Teori Kejuruan

Menurut Edgar Dale, ada keterkaitan antara model pembelajaran, tingkat memorisasi, dan tingkat keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Proses Penyelenggaraan  Pendidikan  Kejuruan:

1.      Pengalihan Ilmu (transfer of knowledge)

2.      Pencernaan Ilmu (digestion of knowledge)

3.      Pembuktian Ilmu (validation of knowledge)

4.      Pengembangan Keterampilan (skill development)

Model Pembelajaran Kejuruan: Ceramah, Diskusi, Presentasi, Simulasi, Demonstrasi, Praktik

Tingkat memorisasi peserta didik bisa mencapai 10% - 90% dengan menggunakan model pembelajaran membaca, mendengarkan, memperhatikan, sampai dengan praktik (doing the real things). Kadar keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran mulai dari pasif sampai dengan aktif.

H. Penilaian Hasil Belajar

Penilaian adalah bagian dari cara untuk membuat orang belajar, sehingga penilaian harus mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik dan bagi guru agar ia mengajar yang lebih baik (Djemari Mardapi, 2007: 6). Penilaian dan pembelajaran adalah proses yang saling mempengaruhi. Hasil penilaian dapat mengungkapkan keberhasilan proses pembelajaran, artinya proses pembelajaran akan menentukan keberhasilan penilaian. Sistem penilaian harus dapat mendorong pelaksanaan proses pembelajaran yang lebih baik. 

Pada dasarnya penilaian berbasis kompetensi dalam pendidikan kejuruan mempunyai dua elemen dasar, yaitu pengumpulan bukti kemampuan setiap peserta didik dan menggunakan bukti itu untuk membuat keputusan tentang apakah peserta didik tersebut telah mencapai standar kompetensi  yang telah ditetapkan sebelumnya, atau seperti yang tertuang dalam kurikulum yang digunakan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Halliday (2012: 15) bahwa: “Assessment in vocational education and training has two basic elements the collection of evidence of each learner’s achievements, and the use of that evidence to make judgments about whether learners have met the competency standards as specified in the  relevant national training package or modules and course curricula from state or provider accredited courses”.

Pembelajaran pada bidang kejuruan mengacu pada pembelajaran berbasis kompetensi, oleh karena itu penilaian terhadap pencapaian hasil belajar sudah selayaknya mengacu pada penilaian berbasis kompetensi. Terdapat beberapa karakteristik penilaian berbasis kompetensi yang harus diperhatikan dalam mengimplementasikan penilaian berbasis kompetensi, karakteristik-karakteristik tersebut yaitu: Belajar Tuntas, otentik, berkesinambungan, Berdasarkan Acuan Kriteria, Menggunakan Teknik Penilaian yang Bervariasi,

Simak juga di:  Konsep dan strategi penilaian hasil pembelajaran





Minggu, 15 Mei 2022

Model ADDIE: Desain Instruksional

 


Model ADDIE ini adalah singkatan untuk lima tahap proses pengembangan, yaitu Analyze (analisis), Design (Desain), Develop (Pengembangan), Implement (Implementasi), dan Evaluate (Evaluasi).

Alasan peneliti memilih menggunakan metode ADDIE dikarenakan model pengembangan ini memiliki keunggulan pada tahapan kerjanya yang sistematik.

1.     Analyze (Analisis)

Pada tahapan ini, dialkukan Analisa tentang beberapa hal yang perlu diketahu sebelum kegiatan pelatihan/training dilakukan. Seperti tujuan penyelenggaraan training, siapa peserta dana pa yang menjadi kebutuhan peserta training terkait dengan materi, metode, Teknik pembelajaran, dan lain-lain.

2.     Design (desain)

Dalam tahap disain ini seorang perancang pelatihan perlu melakukan perencanaan awal untuk program pelatihan/pembelajaran, perancangan materi pelatihan dan perencanaan evaluasi pelatihan secara konseptual yang nantinya akan dijadikan dasar dalam tahap pengembangan.

3.       Develop (pengembangan)

Pada tahapan ini kegiatan dilakukan dengan merealisasikan konsep yang sudah dibuat pada tahap disain. Kegiatan pengembangan adalah merealisasikan kerangka yang dibuat dalam bentuk materi pelatihan, persiapan peralatan yang akan digunakan dan pembuatan evaluasi pelatihan.

4.     Implement (implementasi)

Tahapan implementasi adalah tahapan dimana program pelatihan dilaksanakan. Program pelatihan dilakukan sesuai rencana yang sudah dibuat.

5.      Evaluate (evaluasi)

Evaluasi dilakukan guna meninjau kembali pelaksanaan pelatihan apakah sudah sesuai dengan kebutuhan atau tidak. Kemudian evaluasi juga digunakan oleh perancang pelatihan untuk memperbaiki kekurangan metode yang akan digunakan, sehingga kegiatan pembelajaran kedepannya dapat dirancang dengan lebih baik lagi.

Pembelajaran Model ADDIE







Implementasi bimbingan karir di sekolah dalam peningkatan pemahaman peserta didik di sekolah dasar dalam menentukan karir sejak dini

    Implementasi bimbingan karir di sekolah dalam peningkatan pemahaman peserta didik di sekolah dasar dalam menentukan karir sejak dini...