Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat saat ini telah mempengaruhi secara nyata perkembangan cara-cara yang digunakan dalam proses pendidikan. Produk-produk hasil perkembangan teknologi informasi (TI) telah menginvasi secara langsung di hampir seluruh aspek pendidikan, dan memunculkan pergeseran paradigma dalam penyelenggaraan proses belajar dan mengajar (Lustigova & Lustig, 2009). Sekurangkurangnya terdapat 4 pergeseran paradigma pembelajaran saat ini, yakni (1) dari terpusat pada guru menuju terpusat pada siswa, (2) dari sekedar penyampaian pengetahuan menuju pengembangan kecerdasan multi konteks, (3) dari pengajaran berbasis tempat terbatas menuju belajar berwawasan global, lokal dan individual, dan (4) dari buku teks yang terbatas menuju sumber-sumber belajar yang sangat beragam
Pergeseran paradigma pendidikan tersebut dipengaruhi oleh perkembangan TI yang sekurang-kurangnya ditunjukkan dalam situasai-situasi seperti berikut ini:
1. Konten Multimedia 2. Kemudahan Akses ke Konten Berkualitas
3. Pembelajaran Fleksibel (Mobile Learning)
4. Teknik Evaluasi Diri
5. Fokus pada Pelatihan Keterampilan Praktis
6. Pendidikan Untuk Siswa Cacat
7. Pendidikan dengan Biaya Terjangkau
Pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran pada umumnya diimplementasikan ke dalam dua jenis program aplikasi yakni aplikasi desktop dan aplikasi berbasis web. Aplikasi desktop diartikan sebagai program aplikasi komputer yang dapat berjalan secara offline (komputer tidak terhubung ke jaringan internet). aplikasi berbasis web merupakan program komputer yang berjalan secara online, sehingga memerlukan koneksi internet yang memadahi agar program dapat running well. Jika koneksi internet yang tersedia tidak memadai, maka program aplikasi berbasis web ini akan berjalan sangat lambat dan bahkan akan mengalami situasi hang-up, di mana program berhenti sama sekali.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat, dewasa ini telah dikembangkan teknologi internet dengan berbagai aplikasinya. Penggunaan teknologi ini telah merambah ke hampir seluruh sektor kehidupan manusia seperti bidang perbankan, perhotelan, pelayanan travel, hiburan, berita dan berbagai aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, serta telah memberikan pengaruhnya yang besar pada dunia pendidikan (Bates & Poole, 2003). Internet didefinisikan sebagai jaringan global yang menghubungkan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia dengan menggunakan prosedur tertentu. Aplikasi internet dalam mendukung bidang pembelajaran dapat dipandang sebagai media, jaringan atau tools.
Pembelajaran blended merupakan kombinasi antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran dimediasi komputer termasuk di dalamnya pembelajaran jarak jauh dan E-Learning.
Melalui pembelajaran blended juga dapat ditingkatkan aksesibilitas siswa terhadap proses pembelajaran. Penyediaan akses yang luas bagi siswa terhadap proses pembelajaran merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam penyelenggaraan pembelajaran online. Pembelajaran blended menjadikan siswa dapat memperoleh situasi-situasi yang beragam di luar kondisi lingkungan onlineyang dapat memberi peluang untuk berinteraksi secara sosial dengan guru maupun sesama siswa. Selain itu, melalui pembelajaran blended juga dapat diperoleh fleksibilitas yang tinggi terutama dari sisi waktu pembelajaran yang digunakan. Kegiatan tatap muka yang terus menerus menyebabkan penggunaan waktu kurang fleksibel.
Dalam penerapannya, metode blended learning ini menggabungkan beberapa elemen seperti metode tatap muka (sinkronus), pembelajaran mandiri, kolaborasi antara guru dan siswa, asesmen yang dilakukan secara terpadu, dan akses mudah pada materi-materi pelajaran.
Seperti yang disampaikan oleh Founder dan Chief Education Officer Zenius, Sabda PS, penerapan blended learning memiliki beberapa keunggulan, seperti memberikan pilihan kepada siswa untuk dapat mengatur jadwal belajar sendiri sesuai kemampuannya dan membebaskan sumber pelajaran untuk diambil dari mana saja.
"Kedua keunggulan ini dapat dimanfaatkan agar menjadikan kegiatan belajar tetap terasa interaktif dan memancing keinginan belajar para siswa," papar Sabda
Belajar adalah
perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai
hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat
adanya interaksi antara stimulus dan respons.
Kemampuan guru dalam menjaga, mengarahkan dan
membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan
bakatnya.Gurusebagai motivator,
proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa memiliki motivasi dalam
belajar.
Pembelajaran kompetensimenunjukan pada usaha siswa mempelajari bahan
pelajaran sebagai akibat perlakuan guru dalam mengelolapembelajaranyang menekankan pada
kemampuan dasar yang dilakukan siswa pada tahap pengetahuan, keterampilan, dan
sikap.
Multimedia adalah gabungan dari berbagai media untuk menyampaikan informasi. Contoh media penyampai informasi yang dimaksud adalah teks, gambar, foto, video, musik, bahkan animasi. Siaran televisi misalnya, merupakan contoh multimedia. multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai sistem komunikasi interaktif berbasis komputer dalam suatu penyajian secara terintegrasi. Istilah berbasis komputer berarti bahwa program multimedia menggunakan komputer dalam menyajikan pembelajaran.
Secara umum manfaat yang dapat diperoleh multimedia pembelajaran adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurang, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Multimedia interaktif merupakan bentuk media yang menggabungkan banyak unsur dilengkapi dengan alat pengontrol. Dengan demikian, pengguna dapat memilih proses selanjunya secara aktif. Adapun unsur yang digabungkan dalam multimedia interaktif antara lain, teks, grafik (imag), audio, dan interaktivitas.
Pengembangan bahan ajar dapat dilihat sebagai salah satu langkah dalam pengembangan desain pembelajaran. Dalam model rancangan sistem pembelajaran Dick dan Carey meletakkan kegiatan pengembangan dan seleksi bahan (materi) pembelajaran, sebelum merancang kegiatan evaluasi formatif. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar merupakan puncak kegiatan rancangan sistem pembelajaran, yang terkait dengan penyiapan bahan sebagai wahana interaksi peserta didik dengan sumber belajar.
Mendasarkan pada model rancangan sistem pembelajaran Dick dan Carey, apabila diterapkan dalam kurikulum berbasis kompetensi thun 2004 kegiatan pengembangan bahan ajar harus diawali dengan kegiatan permulaan yang terdiri atas (1) identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar, (2) analisis pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar, (3) merumuskan hasil belajar, dan (4) pengembangan strategi pembelajaran (pengalaman belajar). Berdasarkan hasil perumusan tujuan dan pengembangan strategi pembelajaran, maka disusunlah rancangan pengembangan bahan pembelajaran atau bahan ajar. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar adalah proses penyiapan bahan pembelajaran yang terdiri atas penataan pesan, dalam sumber belajar atau media pembelajaran. Sebagai perwujudannya dapat dalam bentuk paket belajar, buku Asmaul Husna, buku teks, dan lain-lain.
Ditinjau dari peran guru dalam mengembangkan bahan ajar dan strategi penyampaian pada tiap-tiap kegiatan pembelajaran dapat dibedakan atas tiga peran guru dalam merancang bahan, yaitu: (1) guru sebagai perancang pembelajaran individual, (2) guru menyeleksi dan mengadaptasi bahan ajar agar sesuai dengan siasat pembelajaran, dan (3) guru tidak memakai bahan tetapi menyampaikan pengajaran sesaui dengan strategi pembelajaran.
Bahan ajar adalah bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran (Pannen, 1995). Bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi atau subkompetensi dengan segala kompleksitasnya (Widodo dan Jasmadi dalam Lestari, 2013:1). Pengertian ini menjelaskan bahwa suatu bahan ajar haruslah dirancang dan ditulis dengan kaidah intruksional karena akan digunakan oleh guru untuk membantu dan menunjang proses pembelajaran. Bahan atau materi pembelajaran pada dasarnya adalah “isi” dari kurikulum, yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topik/subtopik dan rinciannya (Ruhimat, 2011:152).
Karakteristik Bahan Ajar
Sesuai dengan penulisan modul yang dikeluarkan oleh Direktorat Guruan Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2003, bahan ajar memiliki beberapa karakteristik, yaitu self instructional, self contained, stand alone, adaptive, dan user friendly (Widodo dan Jasmadi dalam Lestari, 2013 : 2). Baca juga di: Karakteristik ideal bahan ajar
Bahan ajar disusun dengan tujuan:
Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan
tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan
kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang
sesuai dengan karakteristik dan setting atau
lingkungan sosial peserta didik.
Membantu peserta didik dalam memperoleh
alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks
yang terkadang sulit diperoleh.
Memudahkan guru dalam melaksanakan
pembelajaran.
Bentuk bahan ajar
Bahan cetak seperti: hand out, buku, modul,
lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart,
Audio Visual seperti: video/film,VCD
Audio seperti: radio, kaset, CD audio, PH
Visual: foto, gambar, model/maket.
Multi Media: CD interaktif, computer Based,
Internet
Bahan ajar disusun dengan tujuan:
Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik;
Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh;
Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Manfaat bagi guru
Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik;
Tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit diperoleh;
Memperkaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi;
Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar;
Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan peserta didik karena peserta didik akan merasa lebih percaya kepada gurunya;
Menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.
Manfaat bagi Peserta Didik
Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik;
Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru;
Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya.
Leighbody mengungkapkan bahwa telling is not teaching, listening is
not learning, and watching is not learning, but all three may need to be used
to assist learning (Leighbody, 1968:3).Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa
mengajar bukan hanya sekedar bercerita dan belajar tidak hanya sekedar
mendengarkan dan melihat apa yang disampaikan oleh guru, namun ketiganya
diperlukan dalam belajar. Implikasi dari apa yang disampaikan olehLeighbody
tersebut adalah bahwa mengajar memerlukan suatu strategi agar interaksi antara
guru dengan peserta didiknya terjadi secara optimal. Strategi secara umum dapat
didefinisikan sebagai suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran
yang telah ditetapkan (Abin Syamsudin, 1998: 220).
Wina
Sanjaya (2007:131) menyampaikan bahwa dalam menggunakan strategi pembelajaran
harus memperhatikan prinsip: a. Berorientasi pada tujuan b. Aktivitas c. Individualitas d. Integritas
Pembelajaran pada hakikatnya adalah pembentukan lingkungan agar
peserta didik dapat belajar berinteraksi dengan lingkungan dimana mereka
belajar. Dengan demikian, pada peristiwa pembelajaran peserta didik sebagai
pelaku pembelajaran harus aktif, tidak hanya sebagai penerima ilmu dari guru
tetapi harus berperan sebagai pencari ilmu. Oleh karena itu, pembelajaran harus
terjadi perubahan pola pikir dari guru sebagai pusat pembelajaran (teacher
centered) menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centered
learning).
Pembelajaran berbasis
kompetensi adalah pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian kompetensi.
Proses pembelajaran berbasis kompetensi menggunakan asumsi bahwa peserta didik
yang akan belajar telah memiliki kompetensi awal yang dibutuhkan untuk
menguasai kompetensi tertentu. pembelajaran berbasis kompetensi harus terus
menerus dikembangkan, agar pembelajaran menjadi menarik dan tidak membosankan.
Norton (1987) menggambarkan lima elemen esensial dari pembelajaran berbasis
kompetensi yaitu (1) kompetensi yang akan dicapai harus dirumuskan dengan
cermat tentang jenis dan jenjang kompetensi dan verifikasi kompetensi sesuai
kebutuhan di tempat kerja, (2) kriteria yang akan dipakai untuk mengukur dan
kondisi pengukurannya harus dinyatakan secara eksplisit dan dibuat secara
terbuka/transparan, (3) program pembelajaran dirancang sedemikian rupa dan
mampu mengembangkan individu dan evaluasi untuk masing-masing kompetensi, (4)
aktivitas penilaian kompetensi harus mampu mengukur pengetahuan, sikap, dan
kinerja aktual (actual performans), dan (5) (pembelajaran hendaknya mampu
mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan yang terukur.
B.
Pembelajaran Saintifik
Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang
untuk mengkondisikan agar peserta didik secara aktif mengkonstruk konsep, hukum
atau prinsip melalui tahapan mengamati (untuk mengedintifikasi atau menemukan
masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan
dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan.
Penerapan
pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti
mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan
menyimpulkan. Bantuan guru diperlukan dalam melaksanakan proses tersebut. Akan
tetapi, bantuan guru tersebut hendaknya semakin berkurang seiring dengan
semakin dewasanya dan tingginya jenjang kelas peserta didik. Mengacu pada
Permendikbud Nomor 81ATahun 2013, proses pembelajaran untuk semua jenjang
termasuk sekolah menengah kejuruan dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan
ilmiah (saintifik).
Pembelajaran berbasis proyek merupakan
pembelajaran yang didasarkan pada penyelesaian proyek bagi peserta didik.
Pembelajaran berbasis proyek merupakan kategori strategi pembelajaran tidak
langsung (indirect instruction).Pembelajaran berbasis proyek memberikan
tugas yang berasal dari masalah. Peserta didik dituntut melakukan pemecahan
masalah secara mandiri dengan permasalahan yang autentik sehingga memungkinkan
pengembangan keterampilan dan pengetahuan peserta didik.
Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek
·Penentuan proyek
·Perancangan langkah-langkah penyelesaian proyek
·Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek
·Penyelesaian proyek dengan fasilitas dan monitoring guru.
·Penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil proyek
D. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning/PBL)
Pembelajaran berbasis masalah adalah strategi pembelajaran yang
menggerakkan peserta didik belajar secara aktif memecahkan masalah yang
kompleks dalam situasi realistik.
Karakteristik
Pembelajaran Berbasis Masalah:
·Aktivitas didasarkan
pada pertanyaan umum
·Belajar berpusat pada
peserta didik, Guru sebagai fasilitator
·Peserta didik bekerja
kolaboratif
·Belajar digerakkan oleh
konteks masalah
·Belajar interdisipliner
Tahap-tahap
Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)
Tahap-1 Orientasi
peserta didik kepada masalah
Tahap-2 Mengorganisasi peserta
didik untuk belajar
Tahap-3 Membimbing
penyelidikan individual maupun kelompok
Tahap-4 Mengembangkan
dan menyajikan hasil karya
Tahap-5 Menganalisis
dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
E.
Pembelajaran Berbasis Kerja (Work Based Learning)
Beberapa definisi
menjelaskan bahwa workbased learning sebagai semua bentuk pembelajaran melalui
tempat kerja, apakah berwujud pengalaman kerja (work experience) atau kerja
dalam bimbingan (work shadowing) dalam waktu tertentu.
Manfaat Pembelajaran Berbasis Kerja
(WorkBased Learning)
1.Bagi Peserta didik
2.Bagi dunia Industri
3.Bagi Sekolah
4.Bagi Komunitas
Pelaksanaan pembelajaran berbasis kerja
(workbased learning) dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai model sebagai
berikut:
1.Apprenticesship,
2.Internship,
3.School Based
Enterprise,
4.Co-operatif Education,
5.Job Shadowing
F. Pembelajaran Praktik Bengkel
Pembelajaran praktik dirancang dengan
pembelajaran berbasis kompetensi (competence based learning).Pembelajaran competence based learning
adalah suatu pendekatan pelatihan dan assessment yang diarahkan pada outcomes
yang spesifik. Pendekatan ini membantu individu untuk menguasai keterampilan,
pengetahuan dan sikap sehingga mereka mampu menunjukkan hasil kerjanya pada
standar di tempat kerja dan kondisi tertentu.Kompetensi terdiri dari spesifikasi pengetahuan,
ketrampilan dan sikap serta penerapannya dalam tingkat pekerjaan industri pada
standar unjuk kerja yang dibutuhkan dalam pekerjaan
Pelatihan Berbasis
Kompetensi (CBT) Lebih Mengedepankan:
1.Peserta pelatihan harus
sangat aktif berlatih dan mencari bahan ajar
2.Instruktur lebih kepada
memfasilitasi
3.Pelatihan berdasarkan
standar
4.Penilaian hanya
mengumpulkan bukti bahwa hasil pelatihan sesuai dengan kriteria standar
G. Pembelajaran Praktik Laboratorium
Pembelajaran praktik laboratorium adalah sebuah pembelajaran yang berfungsi
meningkatkan pemahaman tentang suatu teori, konsep dengan melakukan percobaan
(eksperimen) di laboratorium. Dari pengertian tersebut bisa
kita simpulkan bahwa pembelajaran model ini menekankan pada praktik
laboratorium untuk eksperimen guna menyelesaikan suatu masalah.
Skenario Pembelajaran Praktikum Laboratorium
G. Pembelajaran
Teori Kejuruan
Menurut Edgar Dale, ada keterkaitan antara model pembelajaran,
tingkat memorisasi, dan tingkat keterlibatan peserta didik dalam proses
pembelajaran. Proses Penyelenggaraan Pendidikan Kejuruan:
1.Pengalihan Ilmu (transfer of knowledge)
2.Pencernaan Ilmu (digestion of knowledge)
3.Pembuktian Ilmu (validation of knowledge)
4.Pengembangan Keterampilan (skill development)
Model Pembelajaran Kejuruan: Ceramah, Diskusi, Presentasi, Simulasi,
Demonstrasi, Praktik
Tingkat
memorisasi peserta didik bisa mencapai 10% - 90% dengan menggunakan model
pembelajaran membaca, mendengarkan, memperhatikan, sampai dengan praktik (doing
the real things). Kadar keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran
mulai dari pasif sampai dengan aktif.
H. Penilaian Hasil Belajar
Penilaian adalah bagian dari cara untuk membuat orang belajar,
sehingga penilaian harus mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik dan
bagi guru agar ia mengajar yang lebih baik (Djemari Mardapi, 2007: 6).
Penilaian dan pembelajaran adalah proses yang saling mempengaruhi. Hasil
penilaian dapat mengungkapkan keberhasilan proses pembelajaran, artinya proses
pembelajaran akan menentukan keberhasilan penilaian. Sistem penilaian harus
dapat mendorong pelaksanaan proses pembelajaran yang lebih baik.
Pada dasarnya penilaian berbasis kompetensi dalam pendidikan
kejuruan mempunyai dua elemen dasar, yaitu pengumpulan bukti kemampuan setiap
peserta didik dan menggunakan bukti itu untuk membuat keputusan tentang apakah
peserta didik tersebut telah mencapai standar kompetensiyang telah ditetapkan sebelumnya, atau
seperti yang tertuang dalam kurikulum yang digunakan. Hal ini sebagaimana
disampaikan oleh Halliday (2012: 15) bahwa: “Assessment in vocational education
and training has two basic elements the collection of evidence of each
learner’s achievements, and the use of that evidence to make judgments about
whether learners have met the competency standards as specified in therelevant national training package or modules
and course curricula from state or provider accredited courses”.
Pembelajaran pada bidang kejuruan mengacu pada pembelajaran
berbasis kompetensi, oleh karena itu penilaian terhadap pencapaian hasil
belajar sudah selayaknya mengacu pada penilaian berbasis kompetensi. Terdapat
beberapa karakteristik penilaian berbasis kompetensi yang harus diperhatikan
dalam mengimplementasikan penilaian berbasis kompetensi, karakteristik-karakteristik
tersebut yaitu: Belajar Tuntas, otentik, berkesinambungan, Berdasarkan Acuan
Kriteria, Menggunakan Teknik Penilaian yang Bervariasi,